~Welcome to my Blog :)

Sabtu, 23 April 2011

Cintai Kekasih Ku


Sebuah Cerpen Tentang Persahabatan.
Bayangan itu selalu mengahantuiku. Saat aku duduk di bangku depan kelas, ramai terdengar mereka membicarakan nilai ujian. Tanpa ku hiraukan usikan-usikan mereka, tatapan kosongku tetap mendarat di lantai marmer itu. Melani tiba-tiba lewat dihadapanku, dengan wajah kusut aku menatapnya. Menebak pasti dia akan menanyakan nilai ujianku. Ternyata benar, tanpa basa-basi dia menanyakan hal itu. Aku menggeleng, tidak tahu berapa nilai yang baru saja dibagi.
“kenapa Ran, lo masih mikirin Revant?, udah lah Ran.. dia udah lupain lo. Percuma lo mikirin dia. Harapan kosong”
“sorry, gue mau sendiri dulu”
Begitu aku menjawab pertanyaan sahabat ku, Melani. Aku bergegas memasuki kelas yang sudah memulai pelajaran.

Air mata kian membasahi pipiku, menangisi hal yang harusnya tidak aku tangisi, menyesali hal yang seharusnya tidak aku sesali. Revant, pacarku yang selingkuh dengan teman baikku yaitu Shera beberapa minggu lalu. Lelaki penghianat yang pernah aku temukan. Sejak saat itu aku tidak pernah kontak lagi dengan Revant yang mungkin sudah melupakanku.

Shera berjalan melewati aku yang sedang duduk di sebuah café, lalu duduk manis disebelah ku.
“hai Rani” sapaan itu sama sekali tidak membuat aku terkejut atau jatuh dari bangku.
“hai”
“Ran, gue nggak mau kita musuhan, sory saat itu gue nggak tahu kalo ternyata Revant. . .”
“STOP ! gue muak dengan nama itu. Berhenti membicarakan dia atau lo menjauh dari tempat ini !!”
“okey. Kalo itu yang lo mau. Sebenarnya gue mau ngasih tahu yang harusnya lo tahu ! dia itu PLYBOY ! selingkuh dengan Hana! Teman sekelas kita!” lalu Shera berlari sambil menyeka airmata yang ia keluarkan saat mengatakan hal itu. Masalah apa lagi ini, tiba-tiba Shera datang membawa kabar buruk tentang Revant, yang memacari teman sekelasku. Apa maunya? Apakah semua gadis cantik di dunia ini harus jadi korban selingkuhannya?

Aku merasakan hal yang membuat aku berubah seperti ini. Aku lebih pendiam sejak aku mengetahui bahwa Revant selingkuh dengan teman baikku. Sejak saat itu pelajaran sekolah menjadi terabaikan. Hanya karna cowok? Nilai ku menurun? Hanya karna Revant? Aku menjadi bukan aku !
Tak jauh dari tempat renunganku di sebuah café yang selalu aku datangi saat aku jenuh, terlihat sosok pria yang dari tadi memperhatikan ku. Diam-diam aku mencuri pandang dengannya, tak sengaja aku mendengar teman-temannya memanggilnya dengan sebutan Steven. Lalu dia perlahan menghampiriku, dan duduk disebelahku sambil melepaskan earphone yang sedari tadi ia pasang.
“hai, sendirian aja nih?” kalimat itu hampir sama dengan sapaan cowok-cowok yang pernah mendekatiku.
“iya” aku bersikap biasa saja meski aku tahu dia cowok yang ganteng mirip seperti Adipati yang sering nongol di tv melebihi Revant brengsek yang menjadi topikku hari ini.
“boleh minta nomor hp nggak?” cowo itu selalu tebar pesona meski sama sekali aku tidak menatapnya.
“08xxxxxxxxxx” cuek, meski aku sedikit terpesona dengan tingkah nya yang lucu itu.

“ganteng sih, tapi gue nggak tahu sifat dia kaya apa, trus dia minta . . .” belum sempat aku melanjutkan kata-kata itu, tiba-tiba
“cium? Foto? Tanda tangan? Nomor hp?” Melani melanjutkan kalimatku sambil tertawa kecil melihat tingkah ku yang aneh.
“ssttt !!! santai aja kali, iya dia minta nomor hp gue”
“so? Lo kasih kan ?? yaelah Rani, cowok cakep kaya Adipati itu harusnya elo yang minta nomornya, yah mungkin aja dia jatuh cinta pada pandangan pertama sama lo, loe itu cantik Ran, nggak ada cowo yang nggak berlutut sama lo !” balasku dengan senyum wajar karena kata-kata terakhir itu sudah sering dia ucapkan sebelumnya.
bel berbunyi menandakan jam istirhat sudah berkhir. Aku dan Melani meninggalkan kantin dan kembali ke kelas meski pikiranku melayang kemana-mana.

“Rani, gue BT dirumah.. temenin gue jalan dong, lo bawa mobil aja, ntar gue yang ntaktir lo makan di Resto Mast” sms masuk dari Melani, sahabaku yang selalu ada saat aku membutuhkan seseorang yang mengerti keadaanku.
“oke” balasan singkat terkirim ke Melani, lalu aku bersiap dan mengendarai mobil keluar dari garasi tanpa menghiraukan mama yang memanggilku. Mungkin mama tidak suka dengan tingkahku yang jarang membereskan kamar tidur yang selalu berantakan saat moment sperti ini.

Sesampainya di sebuah café, tempat ku yang menjadi sasaranku saat aku sedang jenuh, sama halnya dengan Melani. Pesanan datang, lalu kami memulai topik yang daritadi ingin dia katakan.
“Rani, gue punya gebetan baru. Orangnya cakep bangeet, mirip sama pemain sinetron di TV”
“oh ya?, bagus dong” begitulah aku yang selalu jutek jika aku sedang badmood, tidak banyak ketawa seperti dulu sama Melani, kini persahabatan kami tidak seakrab dulu, semenjak aku bermasalah dengan Revant. Aku banyak diam dan sering tidak menanggapi curhatan Melani, membuat kami tidak seramai dulu, mungkin saat aku sudah bisa melupakan Revant, aku bisa tertawa lagi seperti dulu.
Drrrttt drtttt, suara getar hpku sedikit terdengar, ternyata ada sms masuk dari nomor yang tidak dikenal
Ku tekan tombol read- lalu membaca sms itu
“hai, gue yang tadi malam nyamperin lo di café, ingat?”
“iya, gue Rani, nama lo siapa?” sedikit aneh jika aku menanyakan namanya, karena selama ini aku tidak pernah menanyakan lebih dulu dengan seseorang.
“guee… Steven J
---“smsan sama siapa Ran?” hampir terkejut aku mendengar Melani memecahkan keheningan. minuman yang dari tadi di meja tidak aku minum, lalu ku minum dan menjawab Melani
“ sama cowok “
“oh” lalu dia melanjutkan makanannya tanpa menghiraukan ku.
Hampir lupa aku dengan sms Steven tadi, tanpa banyak tingkah aku langsung memencet tombol hp dengan cepat.
“Steven, kapan kapan ketemuan yuk, gue kan belum kenal lo . .” ---apa? Ketemuan? Haha ,, aku salah tingkah saat me sms Steven mengajak dia ketemuan. Mungkin ini jalan yang membuat aku bisa melupakan Revant
“boleh, kapan?”
“malam minggu di café tempat lo nemuin gue.”
Hening, tak ada balasan dari Steven, entah hpnya lowbat, pulsa habis, sengaja, atau . . (?)

Malam minggu telah tiba, Steven yang masih dalam tanda tanya akan bertemu denganku, tanpa banyak pikir aku menuju ke café dengan mobil yang sering aku gunakan. Tak ada yang menemaniku pergi ke sana, kuharap juga begitu dengan Steven. Sedikit aku mengingat wajahnya yang mirip dengan Adipati, tak lama aku melihat sosoknya yang memakai kaos kuning, dan sepatu cat warna putih, sangat pantas ia kenakan senada dengan wajahnya yang tampan.
“hai, Rani?
“hai Steven.” Masih terlihat kaku aku menjawab sapaannya.
Kami pun ngobrol-ngobrol seputar sekolah, keluarga, teman-teman, dan pacar *upzzz.. ternyata dia bilang dia juga jomblo.
Tak lama kami ngobrol, aku tidak sengaja menceritakan pengalamanku dengan Revant, yang sampai saat ini hubungan kami rumit sekali, tak ada kontak sedikitpun. Entah Shera ? apa mungkin dia sudah diputusi cowo brengsek itu? Akupun merasa sudah tidak pantas dengan Revant.
“Rani, yang sabar ya.. cowo sperti tu tidak pantas dicintai, hanya menyakiti dan membuat gadis cantik seperti mu menangis, menghilangkan senyum manis yang harusnya kamu pancarkan di wajahmu, tidak ada yang sempurna di dunia ini, ada saatnya menangis dan tertawa, itu tergantung kita yang menanggapi kenyataan. Saat ini kamu punya pengalaman pahit tentang cinta, dan seharusnya kamu sabar, dan jika kamu seperti ini terus, kamu dapat kehilangan kamu. Sikapmu yang dulu, bukan kamu yang dulu. Hapus airmata mu yang daritadi mengalir dipipimu.. tapi jika kamu ingin menangis, menangislah dan keluarkanlah kekecewaanmu malam ini. Masih banyak cowo yang lebih baik darinya” Steven menyeka airmataku dengan tisu di kantongnya. Aku seperti terhipnotis oleh kata-kata indah yang terucap olehnya. Membuat aku lebih semangat menghadapi kenyataan. Dia benar. Aku sedang mengalami pengalaman pahit tentang cinta. Revant yang sangat aku cintai kini berpaling ke hati lain, Shera teman baikku menjadi persinggahan hatinya. Aku tidak menyangka bahwa dia setega itu denganku. Aku bersandar di  pundaknya dan menangis mengenang kenanganku bersama Revant. Aku bingung kenapa cowo se cakep dia bisa membujuk aku seperti ini. Seperti sudah mengenalku beberapa tahun yang lalu. Dia sangat mengerti keadaan ku saat ini. Melebihi pengertian yang dari mama dan papa yang selalu sibuk. Melebihi sahabatku Melani yang suka menghibur tetapi tidak dapat membuat aku mendalam seperti ini. melebihi Revant yang penghianat. Melebihi teman-teman dekatku yang hanya menghibur sejenak. Dia berbeda, dia membuat aku mengerti betapa pentingnya sebuah kesabaran, mengahadapi kenyataan tanpa perbuatan yang sia-sia.  Aku masih tersandar di pundaknya. Tak lama aku tersadar, lalu mengambil tisu yang ada di tangannya dan mengusap airmata ku sendiri. Aku sempat tidak tersadar dengan orang-orang di sekelilingku. Mereka melihat kami seperti orang aneh, mereka kira Steven, cowok yang disampingku yang membuat aku menangis. Steven seakan-akan bisu melihat aku menangis tadi. Aku lumayan lega saat menangis dan mengeluarkan semua kekecewaan yang selama ini aku tutupi dengan sikapku yang berubah. Tiba-tiba Steven memegang tanganku dengan lembut. Berharap dia akan menghiburku lagi.
“Rani, gue seperti sudah mengenal lo jauh lebih dekat, lo beda dari cewe-cewe yang selama ini gue temuin. Sebenarnya lo itu tegar, coba lihat diri lo sendiri. Lo bisa nangis. Dan memang wajar jika seseorang yang sedang sedih pasti ia menangis untuk mengeluarkan kekecewaannya. Kadang orang-orang yang mungkin sama keadaannya seperti lo saat ini, mereka tidak ada yang perduli. Mereka menangis di dalam kamar dan tidak ada yang mengerti mereka. Harusnya lo bersyukur Ran, masih punya orang tua yang jauh lebih menyayangi lo, teman-teman yang sayang sama lo, atau mungkin sahabat lo, yang ada saat lo butuh orang untuk mengerti lo.”
Astaga,, mahluk apa dia? Sebijak itu? Aku baru menemukan orang yang segitu bijaknya untuk menghibur seseorang. Aku baru mengenalnya 2 hari yang lalu. Tapi dia sangat istimewa, dia cakep, baik, dan perfect di mataku. Aku tidak berani jatuh cinta sejak pengalamanku dengan Revant. Lalu Steven menghadap ke arah mataku..
“jujur, gue ngerti banget keadaan lo sekarang, pacar gue, Hana, dia hilang gitu aja tanpa ada kabar dan kontak dengan gue. Kata temannya dia sudah punya pacar yang berinisial R . gue muak. Sama kaya lo sekarang. Tapi gue berusaha tegar, dan tidak ingin melakukan hal yang percuma. Lalu gue sekarang lebih dekat dengan teman-teman gue, hanya untuk hiburan sesaat. Gue sadar bahwa cewe yang lebih baik di dunia ini masih banyak. Terutama orang yang ada di hadapan gue sekarang.”
Kalimat itu membuat aku tersadar dari lamunanku. Apalagi dengan Hana, nama itu sama dengan pacar barunya Revant, dan dia bilang Hana punya pacar baru yang berinisial R, dia senasib seperti aku, daan.. siapa lagi kalo ternyata Steven pacarnya Hana, yang pacaran dengan Revant pacarku. Benarkah?
Rasa bimbang yang membuat aku bisu mulai mengangat bibirku untuk bicara.
“m..maks.ud lo apa? Yang kata lo tadi cewe lebih baik di dunia ini masih banyak. Terutama orang yang ada di hadapan gue sekarang? Bukankah orang yang di hadapan lo ini gue?” sedikit gagap aku angkat bicara. Berharap bahwa Steven adalah orang yang menggantikan Revant brengsek yang dulu di hatiku.
“iya Ran, gue. .”
“(?)”
“gue jatuh cinta sama lo, sejak pandangan pertama, sejak lo duduk di café yang kita duduki sekarang, gue sayang sama lo saat gue tahu pengalaman lo yang sama persis kaya gue, gue terpesona dengan sikap lo yang nggak berlebihan. Gue mau lo jadi pacar gue Ran”
Belum sempat aku menjawab, jantung ku rasanya mau copot, ternyata tebakan gue benar, dia juga suka sama gue, dia mirip dengan Adipati artis idola gue, dia orang yang bijak, menghibur dan bisa ngertiin gue, dan usianya tidak jauh beda dengan gue, Cuma beda 2 tahun.
“i..iya Stev, gue juga suka sama lo saat keberanian lo saat minta nomor hp gue, gue sayang sama lo krna lo bisa ngertiin keadaan gue, dan gue jatuh cinta sama lo dengan tampang lo, sikap lo yang bijak, dan kedewasaan yang membuat gue bisa lebih berarti.”
Steven memegang tanganku di tempat itu. Ia duduk di bangku hadapanku . malam minggu, pertama kali aku jalan dengan Steven yang baru ku kenal dua hari yang lalu. Aku tersenyum saat ia menatap mataku. Terlihat mata indahnya yang sangat mencuri perhatian. Ku lihat jam tangan ku menunjukkan angka tepat sepuluh malam.
“Steven, gue pulang dulu ya, sudah malam. Senang bisa jadi pacar lo. J
“iya sayang, gue juga pulang . hati-hati di jalan ya. .” motor SF yang sangat cocok ia tunggangi, membuat semua mata yang ia lewati melihat sosoknya dengan helm terbuka. Dengan tampang yang cakep itu, cewe mana yang nggak suka dengan dia?

Cukup aku yang tahu, tentang aku dan Steven yang sudah jadian, tak ada yang tahu meski Melani sekalipun. Dengan wajah gembira, aku seperti kembali ke aku yang dulu. Berharap agar Steven berbeda dengan Revant.
“ciee, tumben Ran, lo nggak murung lagi? Ada apa Ran? Bagi-bagi dong  ,, hehe”
Melani mengikuti langkahku menuju kelas, sambil mengatakan itu denganku, aku tak menoleh sedikitpun,
“nggak apapa kok, hehe, ada ujian apa hari ini?” ucapku mengalihkan topik.
Mungkin Melani bingung dengan sikapku yang aneh, seperti sebelumnya, aku jarang menanyakan tentang pelajaran. Apalagi berbicara sepanjang itu. Melani hanya diam dan masuk kelas menuju teman-teman lainnya mendahului langkahku. Ku tanggap biasa karena aku hanya basa-basi tentang hal itu.

Sepulang sekolah, karena persahabatan kami agak renggang akhir-akhir ini, aku berjalan sendirian ke pintu gerbang sekolah. Melihat Melani yang sedang ngobrol dengan seorang cowok ber SF hitam, sama seperti SF Steven yang di tungganginya malam itu. Ku lihat dari kejauhan, sedikit terlindungi oleh siswa-siswi yang melewati gerbang sekolah. Setelah cowok yang tadi ngobrol dengannya pergi, aku menghampiri Melani lalu bertanya.
“siapa cowo tadi Mel?”
“oh, dia teman, padahal gue suka sama dia, dari dulu gue pengen banget dia nembak gue, padahal gue udah beri perhatian lebih ke dia, tapi dia sama sekali nggak respon . huftt”
“yang sabar ya Mel, mungkin lo harus nunjukin bahwa lo bener-bener suka sama dia. So, lo harus banyak ngobrol sama dia, supaya dia care sama lo”
“oke thanks ya Ran, gue udah dijemput. Bye”
“iyaa,, daaaaaaaaahh” tangan ku melambai di kaca belakang mobil jemputannya. Mungkin saja Melani melihat aku yang seperti itu.
Heran, helm yang digunakan gebetan Melani sama dengan helm Steven yang ia gunakan malam minggu lalu. Kendaraan SF hitam juga sama persis dengan SF Steven. Mungkinkah? Cowok yang selama ini Melani sukai itu pacarku? Steven.? Meski Steven belum tahu dimana aku bersekolah. Aku tidak ingin hal serupa terjadi lagi olehku. Beberapa bulan lalu Revant yang memacari teman baikku, Shera dan akhirnya ia menjadi korban Revant. Dengan modal ketampanan Revant dapat mencuri hati cewek cantik yang ada di sekolah maupun di luar sekolah. Meski aku sempat bertabrakan mata dengan Revant di sekolah, tak ada senyum sedikitpun dari kami, bahkan berteman pun tidak. Sejak saat itu aku mulai berpikir yang aneh-aneh, demikian dengan Melani. Aku juga bingung dengan ini, yang paling aku takutkan adalah cowok yang dimaksud Melani itu pacarku. Sikapku yang mungkin sudah berubah semakin hari semakin menyimpang, apa salahku? Mengapa aku selalu mendapat karma tentang cinta? Apalagi sahabatku satu-satunya? Aku juga tidak ingin kehilangannya.

Ku lihat Melani senyum-senyum sendiri saat melihat layar hpnya. Di perpustakaan itu aku yang pura-pura tidak melihat, dengan buku yang sedang kugenggam. Seperti tebakanku, mungkin dia sedang smsan dengan pujaan hatinya. Yang kemarin di gerbang sekolah, beriri-ciri persis dengan Steven. Oh Tuhan… jangan sampai itu beneran Steven! Jika tidak, maka aku akan bunuh diri, bunuh perasaan sendiri. --- tiba-tiba ada sms masuk dari Steven. Kuharap dia tidak mengajakku jalan beberapa hari kedepan. Aku ingin fokus dengan ujian akhir sekolah yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi. Dan ternyata benar, Steven mengajakku ke acara ulang tahun temannya. Aku menolak, masih banyak alasan agar aku bisa fokus dengan ujianku. Bisa tenang dan bisa melupakan masa lalu yang membuatku banyak berubah.

Satu minggu penuh aku tidak banyak bicara. Hanya buku pelajaran yang menjadi temanku saat itu. Aku tidak ingin prestasiku menurun, semenjak ada masalah dengan Revant. Saat yang tepat untuk aku dan Steven jalan. Menyegarkan otakku yang dipenuhi dengan rumus-rumus kimia. Ku telpon Steven dan ku ajak dia jalan hari minggu ini. Jogging, shoping, hal yang sama saat aku masih berpacaran dengan Revant. Hari minggu tiba, saatnya aku jalan dengan pacar baruku. Tiba di sebuah Mall terbesar di Ibukota, saat kami berdua memasuki pintu, disitu aku merasa bahwa diriku sudah kembali seperti dulu.

Aku dan Melani duduk di sebuah café tempat aku yang biasa jenuh. Dengan wajah kusut Melani memecahkan keheningan.
“kemarin lo kemana aja Ran?”
“jalan”
“sama siapa?”
“sama pacar gue..”
“APAH ?! lo tega Rani, lo tega banget sama sahabat lo sendiri. Gue sahabat baik lo sejak SMP Ran, kenapa lo melakukan ini? Lo sengaja kan? Lo nggak usah pura-pura baik di hadapan gue. Sekarang lo rebut gebetan gue? Itukan yang lo mau? Percuma sekarang lo baik di hadapan gue karna gue sudah tahu semuanya.”
Suara yang hampir terdengar di seluruh café. Melani memukul meja seakan-akan dia berada di tengah hutan yang sepi. Tanganku yang daritadi gemetar mendengar Melani berucap seperti itu, terhenti memegang sendok dan garpu. Aku bingung, seakan akan berada dalam mimpi. Bibirku terasa ditahan oleh plester hitam yang erat. Mataku tak dapat bertutup dan mengeluarkan airmata dalam waktu sekejap. Perangaiku yang sadari dulu sudah menebak, ternyata benar terjawab. Hal yang tidak pernah aku inginkan kini terjadi seakan jantungku akan meledak. Sahabatku, Melani baru sekali itu ia berkata kasar di hadapanku. Inikah saatnya aku kehilangan semua orang yang aku cintai? Ku jawab pertanyaan Melani yang sempat membuatku blankout.
“Mel, maksud lo apa? Gebetan lo siapa Mel? Gue nggak pernah ada niat buat ngerebut apapun dari lo. Apalagi gebetan lo yang selama ini lo ceritain ke gue. Sekarang gue mau nanya sama lo, siapa nama gebetan yang selama ini lo certain?”
“STEVEN ! steven namanya. Dia orang yang gue certain ke elo. Dia yang pernah gue bilang mirip artis yang sering nongol di tv. Apa mungkin? Cowok yang minta nomor lo itu Steven kan? Dia yang gue maksud Ran..  diaaa.. gue lihat lo kemarin jalan sama Steven. Orang yang selama ini gue harapin !”
Aku tidak dapat menjawab kata-kata yang seakan membunuhku itu. Dengan bibir gemetar dan airmata yang daritadi mengalir, aku menjawab.
“sorry Mel, gue nggak tahu kalo yang lo maksud itu pacar gue. Sekali lagi gue juga nggak tahu, kalo jadinya gini. Gue nggak mau persahabatan kita hancur gara-gara Steven. Mel… Melani !!”
Aku berteriak memanggil Melani yang lari dari café. Ku ambil tas lalu aku mengejar sosoknya yang hampir membunuh perasaanku. Aku tidak ingin kehilangan Steven apalagi Melani yang sudah ku kenal sejak SMP. Sahabat terbaikku, ternyata dia mencintai Steven, ternyata mereka saling kenal. Lalu aku memperlambat langkahku. Merenungi kata-kata yang Melani ucapkan. Tiba-tiba “Bruukkkkkkkkkk….” Suara yang sangat keras sekali terdengar dari jalan raya yang akan aku lewati. Terlihat puluhan orang mendatangi lokasi kejadian. Dengan sebuah mobil CRV menabrak sebuah rumah yang ada dipinggir jalan. Semua orang bersorak minta tolong, aku yang masih dalam keadaan syok ini, hanya melihat dari kejauhan lokasi itu. Saat ambulance datang, seorang gadis berciri-ciri sama dengan Melani di gotong dan dimasukkan ke dalam ambulance. Aku berlari menuju lokasi kejadian. Bertanya kepada salah seorang yang menyaksikan kejadian itu. “ada seorang gadis yang berlari di jalan ini, sepertinya dia sedang menangis. Tiba-tiba ada mobil CRV yang berkecepatan tinggi menabrak gadis itu. Sepertinya sopir sedang ngantuk atau mabuk lalu mobil yang dia setir oleng ke rumah itu..” ujar seorang saksi yang aku tanyai tadi.
Aku tidak bisa menahan airmata yang mengalir di pipiku. Hatiku seakan menyuruh ku untuk mengejar ambulance yang sudah pergi ke RS terdekat. Sesampainya di RS, aku bergegas mencari informasi tentang Melani, ternyata Melani sudah di tutupi dengan kain putih berbecak darah di kepala. Lalu aku menangis di ruang itu. Ku buka kain yang menutupi wajahnya, ternyata sosok itu benar Melani, sahabatku yang barusan debat dengan ku.

Disaat ku belum mengerti arti sebuah persahabatan
yang harusnya masih tetap bertahan..
Maka saat ini biarlah aku menahan darah
yang harusnya sudah terkuras habis oleh perasaan..
Hancurkan semua hal indah yang dulu pernah aku miliki..
Selamat jalan sahabatku,
Dunia sepi tanpa hadirmu,
Sosok yang mencintai kekasihku,
Dalam ombak masalah yang berakhir kematian..
Ku titipkan salam maaf ke batu nisan..
Ku doakan kau yang disana dapat tenang..
Akan ku rangkum semua pengalaman denganmu wahai sahabat..
Kini tinggallah aku yang merindukanmu..
Jauh di alam yang berbeda, akan ku jaga pujaan hatimu,
yang menyulap semua bagai dalam mimpi tidur panjangku..


NOTE >>> buat pembaca >>“cerita cinta Rani dan Steven silakan ditebak sendiri aja ya.. so’alnya kalo ceritanya kepanjangan bukan cerpen namanya, tapi novel.. hehe ^^ salam “
Lanjut

Karangan : Sri Yuliani Agustina
Date : 14 April 2011