AKU UNTUK KAMU
Lelah hari ini membuat Erik istirahat di kamarnya. Sebelum dia tidur dia masih teringat dengan website yang dibukanya beberapa jam lalu. Disitu dia melihat Sandra sahabatnya berpacaran dengan Andre. Sebelum menutup akunnya dia sengaja mencuri foto Sandra lalu memajangnya di meja kamar. Pria pendiam itu kuliah di universitas terbaik di kotanya, begitu pun dengan Sandra. Mereka telah bersahabat sejak kecil namun sejak ayah Erik meninggal dia menjadi pendiam dan jarang menghubungi Sandra. Usai menyelesaikan tugas kuliahnya Erik menutup laptopnya lalu tertidur pulas. Esok harinya ia kembali kuliah dengan mobil pribadinya. Meskipun dia baru lulus 2 tahun yang lalu, Erik tak perduli dengan sikapnya yang terlalu pendiam dengan orang sekitar.
Kampus—
Dengan kacamata hitam dan mobil merahnya, semua mata tertuju pada Erik. Entah apa yang membuatnya tidak peduli seakan di lingkungan itu tak ada orang lain. Tepat di hadapan Erik setelah turun dari mobil ia melihat Sandra dan Andre jalan berdua dan berpegangan tangan. Disitu Sandra melihat Erik lalu melambaikan tangannya, begitupun dengan Erik. Wajah tampan dan senyum manis itu tertuju pada Sandra. Seperti biasa saat waktu luang ia menyempatkan diri bertemu dengan Sandra, entah sekedar ngobrol atau curhat dengan sohibnya itu.
“hei”
“hei..” sapaan Sandra sedikit mengageti Erik
“gue mau curhat sama lo.. bisa nggak’?”
“kapan ?, bisa kok.. gimana kalo di depan rumah gue, di bawah pohon beringin?” Erik tertawa kecil
“iya, ntar sore gue kerumah lo.. daah” Sandra melambaikan tangannya dengan senyuman.
Sepanjang jalan Erik hanya tersenyum merasakan hari ini.
Tepat pukul 4 sore, sesuai dengan janjinya Sandra datang ke rumah Erik dengan mobilnya. Mereka lalu duduk berdua di bawah pohon itu dan memulai percakapan.
“Rik, sebenernya.. gue ga sanggup cerita ini sama lo, karena mungkin ini pribadi gue sama cwo gue. Tapi ga ada lagi yang bisa ngertiin gue selalin lo. Gue tau itu” ucap Sandra tanpa ekspresi di wajahnya .
“2 orang lebih baik daripada 1, kalo lo gak mencurahkan isi hati lo ke orang lain, selamanya itu cuma bakal jadi masalah lo, dan selayaknya masalah itu yang menyelesaikan harus lo sendiri..”
“iya gue tau.. gue merasa bingung sama perasaan gue sekarang. Andre terlalu mengabaikan gue.. dia memilih fansnya terutama kaum cewek. Yaa gue tau dia bukan artis tapi dia terlalu popular dan itu membuat hubungan kami rumit banget, entah sampai kapan gue diginiin sama dia. Seandainya gue protes dan bicara ini sama dia. Tapi gue takut kehilangannya Rik”
“lo mungkin harus bisa menanggapi hal ini San, lo harus sabar dan lo beruntung , jangan pernah lo menyia-nyiain dia. gue yakin dia sayang banget sama lo. Dia mungkin hanya sibuk dengan urusannya hingga dia sedikit lupa sama lo. lo hanya perlu perhatian lebih sama Andre, karena gue yakin lo pasti bisa jadi yang terbaik buat Andre.”
“lo benar Rik. Seandainya gue nyia-nyiain dia, tentunya gue kehilangan dia”
“nah sekarang lo harus perhatian lebih sama Andre, biar hubungan kalian bisa baik lagi.. udahlah jangan nangis lagi J ” . Walau dalam hatinya sangat ingin mengungkapkan perasaan ini pada Sandra.
“thanks Rik, lo memang sahabat gue yang paling baik” Sandra hanya tersenyum dengan mata yang tertuju pada Erik.
“iya, jangan nangis lah.. dasar cengeng”
Mereka tertawa kecil. Teringat saat ayah Erik belum meninggal dan saat ia belum berubah seperti ini. Erik menjadi orang yang tertutup dan jarang menanggapi hal sepele. Dia terlalu menyembunyikan perasaannya pada orang yang dia sayangi. Meski orang itu adalah Sandra.
Sepulangnya dari rumah Erik, dengan kecepatan tinggi Sandra menyetir mobilnya. Tanpa diketahunya bahwa rem mobilnya blong lalu menabrak truk dengan ganas. Kejadian itu membuat orang-orang di sekitar menyaksikan dan membawa Sandra ke rumah sakit terdekat. Sandra mengalami pendarahan dan matanya tergores benda tajam. Setibanya di rumah sakit, orangtua Sandra memberitahu kepada teman terdekatnya yaitu Erik bahwa Sandra mengalami kecelakaan.
“tante, bagaimana keadaan Sandra?”
“Sandra nyaris buta.. dia membutuhkan donor mata karena matanya tertusuk benda tajam”
“benarkah?? Tante, bolehkah saya mendonorkan mata saya untuk Sandra?, tapi saya tidak mau Sandra mengetahui ini tante.”
Hening membuat suasana itu tegang. Erik nekat mendonorkan matanya untuk Sandra yang sedang membutuhkan pertolongan. Tes darah sudah dilakukan dan sebelum dia kehilangan matanya, Erik menulis:
“keindahan diluar, bukan menjadi jaminan. Hanya di dalam hati semua ku simpan. Gadis yang ku kagumi kini tak mungkin dapat ku tatap lagi. Sebagai hal terindah yang pernah aku saksikan di dunia ini.”
Tak pernah ada penyesalan setelah Erik kehilangan matanya demi Sandra. Dunia sangat gelap ketika Erik menatap dunia dengan hatinya. Kini pria tampan itu tak bisa melihat lagi, sedangkan Sandra mendapatkan kornea mata setelah operasi dilakukan. Keadaan tak semakin baik, Sandra yang tidak mengetahui hal ini tak menanyakan kabar Erik hingga berbulan-bulan. Kini Erik menjalankan aktivitasnya dengan tongkat agar dia bisa berjalan, dan hal itu tak pernah membuatnya mengeluh. Sampai akhirnya terdengar kabar bahwa Sandra akan menikah dengan seorang pria bernama Andre, tepat saat dimana ulang tahun Erik menghadiri perkawinan mereka. Di tempat itulah Sandra mengetahui bahwa Erik yang mendonorkan matanya, Erik hanya tersenyum bahagia saat hari kebahagiaan Sandra mengabarinya. Undangan datang dari keluarga Sandra, diketahuinya bahwa Sandra akan segera menikah dengan kekasih yang dulu pernah diceritakan oleh Sandra. Kini ia hanya bisa mengenang dimana saat mereka bercerita bersama.
Tepat di hari pernikahan Sandra, Erik menghadiri dengan seorang temannya bernama Wawan ke acara tersebut. Keistimewaan terlihat pada acara yang sangat mewah berhias pernak pernik dan beberapa bunga segar menyambutnya. Diduga bahwa orang yang hadir adalah orang orang kelas atas dan berpenampilan rapi. Tepat di depan pintu gerbang tertulis :
“Sandra Melani dan Andre Ghivarel”
Hal itu tak membuat Erik mengeluh bahkan kecewa sedikitpun. Ia tak bisa membaca dan melihat keadaan yang ia hadiri. Perlahan mereka memasuki ruangan, berbau wangi dan hiasan yang sangat mewah di acara pernikahan Sandra. Sebelum berlangsung, Erik berpesan pada Wawan untuk tidak mengajaknya bicara. Erik hanya ingin merasakan suasana pernikahan Sandra dengan perasaannya sendiri. Sandra terlihat sangat cantik menggunakan gaun yang indah berwarna putih, begitu pula dengan Andre, mereka sangat serasi dalam pesta pernikahan itu. Rasa gelisah mulai menghantui Erik, dimana ia akan kehilangan orang yang dia cintai selama ini. Berulang kali ia berpikir bahwa ia tak pantas menghadiri pernikahan Sandra, karena ia telah buta dan diacuhkan orang sekitar. Namun ia tak pernah menyerah untuk ikut membahagiakan Sandra. Meski hanya kehadirannya di acara tersebut. Sekilas Sandra melihat Erik dengan wajah yang sangat tak peduli, dan sekali kali ia memperhatikan pria buta itu. Merasa bahwa Sandra mengenal, namun ia tak sedikitpun menghampiri Erik ditengah para undangan yang ramai. Sandra pun bertanya pada Andre, lalu ia shock setelah mendengar jawabannya.
“siapa pria buta itu?” Sandra menanyakan hal itu sambil mengarahkan matanya ke posisi Erik.
Andre terdiam, dan ia menjawab dengan mendadak. Hal ini bukan rahasia namun inilah kenyataan.
“dia pasienku”
“pasien?”
“iya.. dia pasienku”
“apa yang kau sembuhkan darinya?”
“aku membantu mendonorkan matanya pada orang yang sangat aku cintai.. namun ia tak ingin ini diketahui oleh orang yang diberikan kornea matanya”
Jawaban itu membuat Sandra berpikir , tak ada gadis yang dicintai Andre selain Sandra.. hal ini membuat Sandra terdiam lalu mencoba memahami kalimat itu. Dan akhirnya ia tahu bahwa pria buta yang berada di kejauhan itu telah mendonorkan matanya untuk Sandra.. Sandra berlari menghampiri posisi Erik dan menatap wajahnya, ia menangis setelah menyadari bahwa apa yang dihadapannya ini adalah Erik pahlawan yang telah mendonorkan kornea mata pada pengantin itu. Perlahan ia berkata di hadapan Erik dan memegang tangannya.
“Erik, ini kau?” ia tak bisa menahan tangis dan hampir shock bahwa sahabat lamanya ini telah lama tak ada kabar. Dan bertemu saat Erik telah buta. Erik hanya tersenyum merasakan hangatnya tangan Sandra saat mengatakan hal itu.
“Erik.. jawab”
“aku sahabat yang telah menerima semua keluhanmu,”
Sandra mulai menangis
“Karena ia lebih baik dan aku hanya teman yang akan menghiburmu dikala kau sedih. Daripada kau yang buta, lebih baik aku yang buta”
Sandra langsung memeluk Erik di tengah acara. Tak peduli semua mata tertuju pada mereka. Kini Sandra telah terlambat dan dengan gaun pengantin yang telah ia kenakan. Airmata yang membuat pundak Erik semakin basah olehnya, terharulah Erik dan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.
Cinta bertepuk sebelah tangan itu bagaikan mimpi indah
Saat orang yang kita cintai bahagia kita akan ikut bahagia
Dan saat orang itu dekat dengan kita
Kita merasa seperti orang itu memang diciptakan untuk kita
Namun saat melihat ia bersama orang lain
Kita jadi tersadar bahwa ia hanyalah mimpi indah
Namun terkadang kita juga bersikeras dan tidak mau menyerah padanya
Padahal kita harus menunggu saat dimana ia akan
Membangunkan kita dari mimpi indah ini
karangan : Sri Yuliani Agustina
Banjarbaru, 20 Agustus 2011
SAD ENDING